Saturday, April 19, 2014

My Newest Blog



Hai semuanya!
Mulai bulan ini saya akan mulai menulis di blog saya yang terbaru <-- klik.
Untuk alasan mengapa saya berpindah bisa baca post paling atas.
Terima kasih atas pengertiannya dan....... sampai jumpa di sana!

Friday, November 15, 2013

Guest Writer : Jangan Cuma Diam Menghadapi Bullying


Suatu saat, sewaktu saya berdiskusi mengenai novel saya, Unfriend You, bersama editor saya, muncul pertanyaan, “Ngomong-ngomong, Dee, kamu pernah ada pengalaman bullying, nggak?” Saat itu saya spontan menjawab, “Enggak.” Tetapi saat pulang dari kantor Gagas Media, saya baru menyadari bahwa saya pernah memiliki pengalaman dibully saat masih SMP.
Pada awalnya, saya hanya menemukan surat kaleng di laci bangku sekolah saya yang menyuruh saya untuk menjauhi kakak kelas (cowok) tertentu. Surat itu dibuat seakan-akan berasal dari senior perempuan yang menganggap saya ‘terlalu ganjen’. Padahal di mata saya, saya biasa-biasa saja. Bahkan saya tidak yakin apakah kakak kelas cowok itu tahu tampang saya. Baru beberapa hari kemudian, saya diajak ke rumah salah satu teman di mana di situ saya dihakimi oleh sejumlah gadis. Intinya, mereka mengkritik kelakuan saya yang di mata mereka salah. Mereka bukan senior, bukan kelompok geng paling tenar di sekolah, tetapi teman-teman saya sendiri. Yup, tanpa saya sadari, teman satu kelompok sendiri saya yang selalu pulang bersamalah yang menyakiti saya.
Saat itu saya tidak menganggap itu sebagai bullying karena saya bahkan tidak tahu perbuatan teman-teman saya itu tidak bisa dibenarkan. Di pikiran saya, mungkin memang saya yang salah. Kejadian itu juga tidak saya perpanjang karena pada akhir tahun sekolah itu, orang tua saya ditugaskan ke luar Jawa. 

Bullying itu Salah
Sekarang, setelah saya dewasa, saya tahu kalau bullying itu salah. Nggak ada orang yang berhak menghakimi orang lain. Nggak ada orang yang berhak merendahkan orang lain. Dan yang lebih penting lagi, yang namanya persahabatan itu seharusnya saling menghormati dan menghargai.
Mungkin banyak orang yang menganggap enteng bullying. Toh cuma kata-kata. Toh cuma sebuah ejekan. Kalau diejek begitu saja nggak kuat, buat apa hidup? Tetapi jangan lupa bahwa kata-kata juga bisa membunuh. Yup, bullying menimbulkan efek yang luar biasa. Di luar sana, ada orang-orang yang bunuh diri karena nggak tahan mendapat perlakuan bully terus-menerus. Di luar sana ada orang-orang yang harga dirinya hancur karena dibully. Lebih mengerikan lagi, ada korban bully kemudian balas dendam dengan menjadi pembully baru atau bahkan menjadi penjahat. Lingkaran kekerasan karena bullying ini akan terus berlanjut.

Ayo Buka Mulut
Jadi, bagaimana kamu bisa menghentikan bullying? Mulailah dengan mengatakan bahwa bullying itu salah. Kamu bisa menyuarakan pikiran kamu di status twitter atau facebook kamu. Kalau kamu menjadi korban, kamu harus berani melawan. Jangan berpikir bahwa dengan diam, masalah kamu akan berhenti dengan sendirinya. Dengan diam, kamu memberikan sinyal kepada pelaku bahwa kamu tidak keberatan dibully. Bicaralah pada orang tua atau figur dewasa yang kamu percayai. Bicaralah pada guru yang kamu yakin mau mendengarkanmu. Kamu perlu dukungan orang lain untuk menghadapi masalah kamu.
Saya tahu masalah keberanian ini bukanlah hal yang mudah. Masalah keberanian ini juga yang menjadi isu utama dalam novel terbaru saya, Unfriend You. Tokoh utama saya, Katrissa, menemukan bahwa sahabatnya, Aura, ternyata tega membully gadis lain yang dianggap ingin merebut pacarnya. Katrissa pada awalnya diam saja karena menganggap bahwa masalah gadis itu, bukanlah masalahnya. Tetapi masalah bertambah semakin parah dan ada nyawa yang harus dipertaruhkan. Untuk membaca bab awal novel Unfriend You, kamu bisa baca di sini (http://deetopia.blogspot.com/2013/06/unfriend-you-first-chapter.html )
Mungkin kamu menganggap langkah kecil kamu tidak berarti. Tetapi percayalah, tidak ada tindakan baik yang sia-sia. Saat kamu menulis status anti bullying, mungkin ada orang di luar sana yang tersenyum dan bahagia karena merasa ada seseorang yang memahami dia. Mungkin ada pelaku yang tidak tahu bahwa tindakannya salah dan berubah setelah membaca status kamu. Begitu juga saat kamu berani berbicara pada orang tua dan gurumu. Itu artinya kamu tidak pasif meratapi nasib, namun berusaha membuat perubahan, setidaknya pada jalan hidup kamu sendiri.

by Dyah Rinni

Thursday, July 25, 2013

Berkampanye anti-bullying dengan CIS Dance


Mulai bulan Juni 2013 kemarin, Kakak membuat satu kampanye anti-bullying bernama CIS dance! Apa itu?  CIS (Cool In School) dance adalah gerakan yang diciptakan khusus untuk mendukung kampanye anti-bullying. Dimana kita bisa seru-seruan, berkreativitas, sekaligus menyebarkan pesan “Say No to Bullying” ke banyak orang. Beberapa teman-teman dari kalangan musisi, penulis, sampai teman-teman Papaya juga ikut seru-seruan. Kayak gimana sih CIS dance? Lihat yuk aksi mereka di bawah ini :
  
  

Vidi Aldiano (Penyanyi)



Soulvibe (Band)





Suddenly September (Band)



Alitt Susanto (Penulis)



Nyunyu (Media Online)



Gagas Media (Penerbit)



 Bukune (Penerbit)





Dan....




Teman-teman yang Peduli








CIS dance versi lainnya bisa kalian search di Youtube. Dan jika kamu peduli dan mau ikut seru-seruan sambil mendukung gerakan anti-bullying, yuk ikutan bikin CIS dance versi kamu! :)

Wednesday, June 12, 2013

Cerita Teman Papaya : "Apa Harus Ngurusin Badan Biar Gak Dibuli Lagi?"


Perkataan menyakitkan seperti sebutan yang berhubungan dengan fisik seseorang adalah hal yang seringkali kita temukan di sudut-sudut sekolah. Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, bullying dalam bentuk verbal nyatanya bisa membawa dampak yang lebih buruk dari bullying dalam bentuk fisik. Hal ini seperti yang dialami oleh salah satu Teman Papaya. Kurang lebih begini ceritanya :

__________________________

Halo Ka, aku mau cerita. Hidupku di sekolah berubah pas masuk kelas 11, aku mulai dikatain "jelek", "gendut", "bau", "monyet", "bego" dan perkataan menyakitkan lainnya sama beberapa temanku dikelas. Mereka itu sok penguasa dikelas, selalu nindas aku. Kayaknya, setiap yang aku lakuin itu ada aja salahnya buat mereka.

Awalnya, aku biasa aja. Aku anggap mereka hanya bercanda. Tapi, tiap hari perkataan mereka semakin menyakitkan. Bahkan, aku pernah nangis di tempat, gara-gara aku dikerubungin dan mereka semua ngatain aku yang buruk-buruk. Aku gak tahan kak diginiin terus, rasanya aku pengen cepet-cepet lulus SMA biar gak ketemu mereka lagi. Memang secara fisik, aku gak sakit. Tapi, hati aku sakit kak:(

Selain itu, mereka juga sering minjem pr aku. Aku sih fine2 aja awalnya, tapi lama-lama aku kesel juga. Mereka, yang setiap hari ngatain aku, cuma datang kalo ada perlunya doang (nyontek pr).

Aku juga pernah berpikiran untuk ngurusin badan, biar mereka semua gak ngatain aku lagi. Menurut kakak gimana baiknya untuk aku? Aku ingin lepas dari pembullyan mereka Kak. 

Makasih Kak...

__________________________

Hai Teman Papaya,
Terima kasih banyak ya kamu sudah mau bercerita sama Kakak dan teman-teman lainnya :)

Bullying verbal itu memang sering dibiarkan, soalnya banyak yang mengira itu hal biasa. Namun, langkah awal kamu untuk membagi cerita ini merupakan langkah yang baik sekali. Ingat, apapun masalah yang kamu alami jangan sampai dipendam sendiri. 

Apa kamu harus mengubah penampilan kamu agar gak dibuli lagi? Kakak sangat tidak setuju dengan itu. Cara agar terhindar dari bullying bukan dengan mengubah siapa diri kita sebenarnya. 

Cara yg dapat kamu lakukan pertama-tama coba bicarakan dengan teman-teman kamu itu bahwa kamu tidak nyaman dengan perilaku dan perkataan mereka. Jika tidak berhasil, coba mulai bicarakan dengan pihak ketiga seperti orangtua ataupun guru. Minta bantuan mereka untuk menyelesaikan permasalahan kamu. Jika tidak berhasil juga coba hubungi psikolog atau pekerja sosial profesional untuk membantu kamu ya.

Semoga bisa membantu dan membawa kamu ke keadaan yang lebih baik lagi :)


Love,
Kak Papaya

Wednesday, May 8, 2013

Behind The Book : "Cool in School"



Pada awal tahun 2009, saya bersama beberapa teman kuliah melakukan kerja sosial di sebuah panti asuhan di Jakarta. Panti asuhan itu berisi remaja laki-laki yang duduk di bangku SMP dan SMA. Selama 6 bulan di sana, saya menemukan satu isu yang sangat mengkhawatirkan yang menyelimuti anak-anak di panti tersebut. Ya, isu bullying. Setelah saya mengungkapkan concern ini terhadap pihak Universitas, beberapa dosen mengajak saya untuk menjadi bagian dari satu proyek penyuluhan bullying di beberapa sekolah di Jakarta.
Selesai penyuluhan tersebut, saya semakin penasaran untuk menangani isu yang ternyata sangat sulit ditangani di lapangan ini. Akhirnya saya mencoba pula menjadi seorang guru di satu sekolah selama 6 bulan pula. Singkat cerita, setelah melakukan beberapa usaha untuk menangani bullying ini saya menemukan satu hal yang paling sulit, yaitu mencoba membantu korban agar mau bercerita mengenai masalah yang mereka alami.
Hampir satu tahun saya mencoba mendalami tiga kasus korban bullying yang beberapa kali telah mencoba untuk bunuh diri. Untuk membuat satu korban bullying bercerita saja memerlukan banyak sekali waktu yang diluangkan. Bagaimana bisa mengatasi bullying di Indonesia jika satu korban saja membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dapat bercerita. 
Di awal tahun 2012, saya mencoba membuat blog Carika Papaya sebagai wadah bagi siapapun untuk bercerita mengenai bullying yang dilihat, dilakukan, maupun dialami oleh mereka. Dari pembuatan blog sebagai eksperimen ini ternyata mendapatkan sambutan yang luar biasa dari teman-teman Papaya! (Yay!) Cerita demi cerita masuk ke email saya mulai dari hari pembuatan blog ini.
 Gak nyangka ternyata blog ini telah membuka satu gerbang lagi yang membantu saya untuk terus memerangi bullying. Pada Desember 2012, penerbit Gagas Media mencari seorang penulis dimana pada saat itu telah ramai kasus-kasus bullying di media. Alhamdulillah, Gagas Media menemukan blog ini dan menghubungi saya untuk menawarkan membuat sebuah buku. Saya tahu dalam hati saya, memang buku sangat diperlukan mengingat hanya ada dua buku Indonesia yang membahas mengenai bullying. Namun, apakah saya bisa?
Setelah berbincang dengan pihak Gagas selama hampir 6 jam, akhirnyaaaaa.... jeng! jeng! kita memutuskan untuk membuat satu buku pengembangan diri. Buku Pintar Bergaul di Sekolah yang dikemas dengan contoh kasus dominasi yang pernah dialami remaja di sekolah, ilustrasi, serta lembar aktivitas yang bisa kamu isi. Semoga dengan lahirnya Cool in School, buku ini bisa memandu kamu untuk survive and be Cool in School! Biar gaul harus tetep cool, ya kan? :p


Stay in peace,
@AprishiAllita


----------------------------------------------------------------------------------------------


"Buku tentang pergaulan yang sangat tepat dibaca oleh para remaja. Bahasanya ringan, enak dibaca, dan isinya juga sangat mencerahkan. Selain untuk remaja, buku ini juga patut dibaca oleh para orangtua, guru, dan pendidik"
Kak Seto, Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak


Highly recommended book for teens and parents. Alur yang menarik, deskriptif, dan dekat dengan keseharian remaja.”
Vivid F. Argarini, motivator muda, praktisi media, dan konselor pendidikan


Aprishi mampu menggambarkan kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah baik positif maupun negatif secara apa adanya. Buku ini juga mengajak remaja untuk mampu mengambil keputusan menjadi diri yang tegar, positif, tak mudah terpengaruh pergaulan negatif, dan memilih teman-teman yang tepat. 
Diena Haryana, SEJIWA Chairperson, LSM Anti-bullying